Sunday, January 27, 2019

Berlian Sumatera Barat


Berlian Sumatera Barat



Siang itu langit dipenuhi awan, sekolah SMA Minang tampak sepi, sekolah hanya menjalankan aktivitas ujian olahraga bagi anak kelas 1. Olahraga basket adalah olahraga yang diujikan. Semua anak kelas 1 yang terdiri dari kelas A sampai C mulai bersiap untuk menunjukan kemampuan mereka dalam mengoper bola, dribble bola, dan memasukan bola basket ke dalam ring. Guru olahraga pun mengumumkan secara acak, bahwa siswa yang harus ujian basket terlebih dahulu adalah anak-anak  dari kelas C. Kelas C ini terkenal kelas yang terdiri dari anak yang paling menyukai olahraga basket, namun di kelas C ini juga terdapat anak-anak yang tidak suka dengan olahraga basket, mereka adalah Syifa, Lia, Farhad, Yopi, dan Arnold. Mereka selalu kompak karena sudah bersahabat dari mulai sekolah menengah pertama dan memiliki ketidaksukaan yang sama, yaitu tidak suka olahraga basket, tetapi karena ini ujian olahraga basket, suka atau tidak mereka harus menunjukan kemampuannya. ”Syifa” suara pak guru mulai memanggil, Syifa pun memulai gilirannya, lalu dilanjutkan oleh Lia. Setelah Lia selesai menunjukan kemampuannya, tiba- tiba guru olahraga melihat kilat.“Anak-anak ketika bel berbunyi kita sudahi ya ujian olahraga basket ini,   untuk kelas yang belum  ujian hari ini, ujian akan dilakukan besok”. Anak-anak bingung karena biasanya walaupun bel berbunyi, ujian olahraga akan dilanjutkan sampai semua kelas selesai ujian. Farhad pun bertanya dengan mengacungkan tangannya, “Pak, kenapa ujian dihentikan saat bel berbunyi? bukankah ini masih giliran kelas pertama?”. Guru olahraga pun menjawab, “Iya Farhad memang betul, tapi tadi bapak melihat kilat sepertinya akan turun hujan”.
“Teng Teng”, suara bel berbunyi tanda ujian olahraga harus diakhiri. Guru olahraga meminta anak-anak didiknya untuk pulang ke rumah masing-masing. Anak-anak didiknya pun masuk ke kelas untuk mengambil tas mereka masing-masing. Setelah mengambil tas sebagian anak yang langsung pulang dan ada pula yang pergi ke kantin terlebih dahulu Farhad, Yopi dan Arnold memilih pulang duluan sedangkan Syifa dan Lia memilih pergi ke kantin untuk membeli mi ayam kesukaan mereka.  Syifa dan Lia sampai dikantin, mereka langsung memesan mi ayam hangat dan memilih duduk di dekat jendela. Tidak sampai 10 menit, ibu kantin datang menghampiri sambil menyimpan mangkok mi ayam di meja “Nih mi ayamnya” ujar ibu kantin. “Terimakasih bu” jawab Syifa dan Lia bersamaan. Tiba-tiba saat Syifa dan Lia sedang asyik menikmati mi ayam yang hangat, mata Syifa melihat ke arah luar jendela, ia melihat langit berubah menjadi sangat gelap lalu Syifa pun berkata, “hari ini sepertinya akan hujan lebat ya Li.Mendengar ucapan Syifa, Lia membenarkan dan berujar “Iya benar Syif, langitnya gelap sekali, tapi aku lega Syifa kalau hujan.” Syifa pun bingung mendengar ucapan Lia, Syifa bertanya lagi sambil menatap wajah Lia ”Hah ? Lega kenapa?“ Lia menjawab ”Aku hari ini punya jadwal latihan silat.” Syifa mengerutkan dahi, dan berkata “bukannya kamu seharusnya sedih ya karena kamu tidak bisa latihan silat Li.
“Iya sedih, aku tidak bisa melihat Uda Izan yang seperti oppa Korea itu” jawab Lia, sambil  menunjukan foto Uda Izan yang imut mirip Do Kyung Soo. Syifa tertawa melihat foto Uda Izan, “Haha, Li.” Kali ini Lia yang bingung dengan Syifa yang tiba tiba tertawa. “Syif, sehat? kenapa tiba- tiba tertawa?” tanya Lia. Syifa pun menatap Lia dengan mulut menahan tawa, tanpa menjelaskan apapun. “Ah kamu ini Syif, buat aku penasaran aja .“
Lia mulai menyantap mi ayamnya dan tiba-tiba mulai mengajak bicara Syifa lagi, “Eh ngomong-ngomong Syif, ingin tahu tidak? alasan sebenarnya aku tidak ingin latihan silat?” ujar Lia. Syifa yang juga asyik menyantap mi ayamnya menjadi penasaran “kenapa?” tanya Syifa singkat. Lia pun bercerita, “mamaku sebelum aku berangkat sekolah berkata, ‘Li hari ini akan ada tes jurus 1 sampai 17 yang  konsekuensinya  warna sabuk diturunkan apabila tidak lancar jurusnya’ aku sangat bersyukur apabila  hari ini hujan lebat, jadi aku bisa bolos latihan dan aku bisa punya kesempatan melihat media sosial teman latihan ku, mereka selalu memposting setiap jurus yang diajarkan. Lia pun melanjutkan ceritanya, “kamu tahu Syifa ? dalam seminggu aku bisa bolos berapa kali?” Syifa pun menggelengkan kepala. Lia akhirnya menjawab pertanyaannya sendiri, “empat! empat kali Syif.” Syifa memasang wajah tak habis pikir, dan berkata “wah kamu bolosnya banyak sekali Li, bagaimana kalau tiba-tiba Uda Izan tahu tentang media sosial teman kamu itu Li? Lia pun kaget mendengar ucapan Syifa dan Lia bertanya, “Kenapa memangnya Syif?” Syifa akhirnya menceritakan sebuah rahasia, “aku saudaranya Uda Izan Li”. Mulut Lia menganga, Lia tidak percaya bahwa Uda Izan yang imut itu saudara Syifa sahabat baiknya sendiri.”Pantas Syifa hanya tertawa” ucap Lia dalam hati.  Syifa pun kembali bercerita, “Uda Izan orangnya kayak detektif Li, terutama dalam hal latihan silat, dia bisa tahu alasan kamu sering bolos karena disengaja atau tidak.” Lia pun semakin panik mendengar cerita Syifa. “ Syif, Uda Izan  kenapa bisa tahu kalau alasan bolosku disengaja atau tidak?” Syifa terdiam sejenak lalu tiba-tiba memberitahu dengan nada menakuti,”karena dia langsung menyelidiki anak yang bolos latihan silat.”  
Lia terkejut mendengarnya sampai terbatuk “uhuk… uhuk ah kamu bercanda Syifa, aku semakin takut dengan Uda Izan, tetapi aku juga semakin kagum dengan Uda Izan.” Syifa pun tertawa karena melihat wajah Lia yang kemerahan. “Li merah wajah kamu, kenapa kamu kagum dengan Uda Izan?” Lia  menjawab pertanyaan Syifa “karena wajah dia seperti oppa impian aku ‘Do Kyung Soo’ yang perannya jadi detektif lalu nanti jatuh cinta dengan  perempuan yang diselidikinya.” Syifa semakin tertawa kencang “Kebanyakan nonton drama korea kamu Li haha.” Lia hanya tersenyum, kemudian Syifa  dan Lia pun kembali menyantap mi ayamnya sampai habis. Syifa yang sudah menghabiskan mi ayamnya mulai mengajak bicara Lia lagi, “sekarang kamu sudah tahu, kalau Uda Izan itu pasti tahu alasan kamu bolos disengaja atau tidak, jadi nanti kalau latihan yang rajin Li, sayang sekali ilmunya. Syifa kembali melanjutkan nasehatnya, “katanya kamu ingin menjadi pendekar wanita hebat dari Sumatera Barat, buat membela perempuan-perempuan yang masih tertindas di seluruh Indonesia. Lia menganggukan kepala sambil berkata “iya dong harus! aku harus membela perempuan yang tertindas. Syifa merasa kagum mendengar ucapan Lia sambil berseru “emang ya Li impian kamu luar biasa!” Syifa berharap impian Lia dapat terwujud, Syifa pun mendoakan Lia “aku doakan semoga tercapai Li, aamiin. Lia tersenyum lebar “Wah terimakasih Syifa“ lalu Lia pun mengajak Syifa pulang dengan berjalan kaki.
Saat perjalanan pulang langit berubah menjadi cerah kembali, Syifa dan Lia tiba-tiba menghentikan langkah mereka. Mereka melihat seseorang yang tidak asing. Lia pun memastikan kembali sambil mengusap matanya, meyakinkan diri bahwa itu benar-benar Uda Izan. ”ahhh Uda Izan, bagaimana ini Syifa? aku harus bersembunyi dimana? aku pasti ketahuan bolos dengan disengaja karena dia pasti menyelidiki kenapa aku sering tidak latihan.” Syifa pun memberikan solusi,sudah kamu jujur saja Li. Lia menolak “apa! aku malu Syifa dan bagaimana kalau Uda Izan membenci aku?” Syifa pun berusaha memahami ketakutan Lia.  “Baiklah kamu bersembunyi di belakang rumah gadang itu” Syifa menunjuk rumah gadang yang tampak sepi. Lia pun berlari menuju tempat persembunyiannya. Tiba-tiba saat Lia bersembunyi, terdengar suara yang tidak asing memanggil namanyaLia” ternyata itu suara Farhad, Yopi dan Arnold. “Hei, bukannya kalian sudah pulang duluan?” Lia bertanya dengan suara pelan. “Kita dari toko buku itu” jawab Farhad, Yopi dan Arnold, lalu Lia menyimpan jari telunjuknya di depan mulutnya “stttt jangan berisik kalian, aku sedang bersembunyi.” Mereka bertiga pun iseng dan kembali berteriak “Bersembunyi dari siapa?” Syifa pun yang tadi masih berdiri diposisi awal mendengar teriakan dari belakang rumah gadang, tetapi Syifa tidak bisa meninggalkan posisinya, dia mulai dihampiri oleh Uda Izan. “Syif tadi aku melihat kamu berdua, kenapa sekarang sendirian?” Syifa menelan air liurnya, dan terlihat gugup “Iya, Uda aku tadi berdua, tapi tiba-tiba temanku ada urusan lain.” Uda Izan pun melanjutkan pertanyaannya “kamu tadi bersama Lia?” Syifa menjawab dengan gugup “tidak Uda.” Uda Izan menatap mata Syifa yang seperti menyembunyikan sesuatu. Uda Izan kemudian berkata dalam hati “Syifa menyembunyikan sesuatu.” Tiba-tiba terdengar suara teriakan lagi dari belakang rumah gadang. “Li jangan sembunyi” Yopi, Farhad dan Arnold berteriak. Uda Izan juga mendengar suara teriakan itu dan akhirnya ia mengajak Syifa pergi ke belakang rumah gadang. Syifa pun hanya mampu menganggukan kepala sambil menunjukan wajah panik. Uda Izan begitu terkejut ternyata Lia ada di belakang rumah gadang itu “sedang apa kamu disini Lia ?” Lia, Farhad, Yopi, dan Arnold kaget, Lia pun kemudian menjawab “iya Uda Izan, maaf aku sedang bersembunyi dari Uda Izan, aku terlalu takut untuk jujur kalau aku bolos dengan sengaja”. Uda Izan tertawa kecil aku sudah mengetahui alasan kamu bolos dan aku sudah menyelidikinya.” Lia hanya bisa tersipu malu. Uda Izan kemudian kembali berkata, “aku mau mengucapkan terimakasih karena kamu sudah berkata jujur kepadaku, jujur itu adalah suatu sikap yang baik dan harus tertanam dalam diri”. Syifa pun meminta maaf kepada Uda Izan karena sudah berbohong kepada Uda Izan. Uda Izan pun tersenyum lalu berkata, “iya, jangan diulang lagi ya Syif.” Syifa mengangguk dan berkata “iya Uda Izan aku akan berkata jujur dan tidak berbohong lagi” ujar Syifa sambil mengacungkan jari kelingkingnya dan Syifa mengajak janji jari kelingking dengan Uda Izan. Farhad, Yopi, dan Arnold yang daritadi hanya diam saat melihat adegan Lia yang ketahuan bersembunyi oleh Uda Izan, hanya bisa berkata “wah Lia hebat sudah jujur” Lia menghela nafas. Syifa pun mengajak Uda Izan untuk pulang bersama, namun Uda Izan menolak karena Uda izan akan pergi ke toko buku yang ada di belakang rumah gadang. Uda Izan pun berpamitan “dah, aku duluan ya”. Syifa dan Lia pun melambaikan tangannya, diikuti oleh Farhad,Yopi dan Arnold.
  “Lega sekali sudah jujur” ucap Lia kepada teman-temannya. Syifa pun menanggapi Lia, “aku senang ketika Uda Izan menghargai kejujuran kamu Li.Lia dengan wajah berseri berkata, “akhirnya masalahku dengan Uda Izan selesai haha.” Tiba-tiba Farhad menghentikan curhatan Lia “Li, berhenti curhatnya haha, aku mau tanya ini sudah pukul berapa?” Lia pun memeriksa jam yang dipakainya “pukul 13.20 WIB Had” ujar Lia. Farhad teringat sesuatu dan mulai berpamitan kepada keempat  temannya “eh aku ada acara nih, aku pamit pulang duluan ya dadah” Farhad pun meninggalkan teman-temannya dengan terburu-buru. Lia kemudian juga teringat Ah iya, kita kan harus pulang Syif.” Yopi dan Arnold tiba-tiba melihat jam tangan mereka , mereka juga baru ingat bahwa mereka harus ke Perpustakaan Sumatera Barat untuk mencari bahan untuk lomba karya ilmiah online yang akan  mereka ikuti. Yopi dan Arnold memang anak yang pintar dan selalu juara dalam lomba karya ilmiah online. Lia dan Syifa pun tertawa lalu mereka berkata dengan kompak “kenapa kita lupanya bisa bareng seperti ini ya? haha. Yopi dan Arnold pun ikut tertawa. Lia dan Syifa pun pamit “ kita pulang duluan ya.” Yopi dan Arnold melambaikan tangannya sambil berkata “dadah kalian, hati-hati ya.” Syifa dan Lia pun mengucapkan terimakasih, sambil mendoakan keberhasilan Yopi dan Arnold “terimakasih, semoga kalian menjadi juara” Arnold dan Yopi mengamini “aamiin kemudian Lia dan Syifa pun meninggalkan Arnold dan Yopi. “Yop, yuk ke perpus sekarang!” seru Arnold dengan semangat. Yopi pun menganggukan kepala. Setibanya mereka di perpustakaan, mereka langsung mencari bahan untuk karya ilmiahnya.  Yopi dan Arnold mulai memilih buku-buku sebagai bahan referensi karya ilmiah mereka. Tidak berapa lama, Yopi dan Arnold terkejut melihat Farhad ada di perpustakaan juga, Arnold pun langsung dengan semangat menyapa Farhad “eh had kamu disini ?” Farhad pun  mengiyakan, ia  berusaha tidak gugup iya hehe.” Arnold  teringat kalau Farhad seharusnya datang ke suatu acara, dan Arnold berkata, “bukannya kamu punya acara Had ?” Farhad pun mulai panik dan menjelaskan dengan gugup “hah iya tapi aku mengurungkan datang ke acara itu, aku ingin mencari buku di perpustakaan saja. Yopi dan Arnold pamit untuk pergi ke ruang diskusi “ah yasudah kami ke ruang diskusi dulu ya, karena kami ingin mendiskusikan buku yang menjadi referensi ntuk lomba karya ilmiah kami.” Farhad tersenyum bangga kemudian ia menyemangati serta mendoakan Yopi dan Arnold “kalian ini memang hebat ya, semangat kalian! semoga lancar.” Yopi dan Arnold mengucapkan terimakasih dan mengamini doa Farhad.
Yopi dan Arnold pun segera meninggalkan Farhad, kemudian mereka masuk ke ruang diskusi. Setelah satu menit mereka duduk, mereka teringat sikap aneh Farhad. Yopi pun mulai membicarakan sikap aneh Farhad kepada Arnold “Hei Old kamu tadi melihat sikap Farhad, aneh bukan?” Arnold pun mengiyakan “iya benar, aneh.” Arnold pun melirik jam di ruang diskusi dan berkata “Yop yuk mulai diskusinya.” Yopi menganggukan kepala namun pikiran Yopi masih terganggu dengan sikap Farhad tadi. “Kenapa Farhad ya? dia bukan tipe yang suka menyendiri, apa ada masalah ?”gumam Yopi dalam hati. Ketika Arnold menyampaikan ide untuk karya ilmiah ,Yopi terus termenung, Arnold pun mencoret tangan Yopi menggunakan pulpen “ih kenapa kamu Arnold?” Yopi kaget melihat tangannya yang tercoret pulpen.  “Kamu tidak mendengarkan ide aku?” tanya Arnold dengan kesal. “Iya aku sedang susah konsentrasi. Yopi pun meminta maaf kepada Arnold karena dia kurang konsentrasi Arnold pun memaafkan Yopi, kemudian mereka berdiskusi selama dua jam.
Tiba- tiba bel perpustakaan berbunyi, ini tanda perpustakaan akan tutup. Yopi dan Arnold harus puas dengan hasil hari ini, mereka pun pulang ke rumah masing-masing. Farhad yang masih sibuk mencari buku, mendengar bel perpustakaan berbunyi , kemudian dia bergegas pulang dengan tangan kosong karena buku OCD yang Farhad ingin cari tidak ia dapatkan. Sesampainya di rumah Farhad terkejut mendengar adiknya teriak-teriak “Aku benar-benar benci diriku, kenapa aku tidak bisa melakukan ini? Ahhhhhhhh teriak Aquila. “Kamu kenapa?” Farhad panik melihat Aquila yang ternyata sedang memukul kepalanya dengan tangan. Aquila bercerita sambil menangis, aku capek Uda! kenapa aku tidak bisa melakukan ini dan itu dengan baik?  Farhad hanya bisa memeluk adiknya sambil berkata “kamu bisa Dik, kamu pasti bisa, tidak usah khawatir dan jangan sakiti diri sendiri. Aquila melepaskan diri dari pelukan Farhad dan berteriak “aku sangat malu?” Farhad pun menenangkan Aquila dan ia ingin Aquila bercerita mengenai yang terjadi. Aquila pun menceritakan, “aku sudah capek dengan OCD ku Uda, sudah 2 bulan aku dikucilkan oleh teman-teman kelasku, mereka hari ini juga mencemooh diriku, menyebarkan tentang OCD ku sehingga satu sekolah tahu, aku malu Uda, aku merasa tidak berguna, aku benci OCD ku, benci!” Farhad menangis mendengar cerita Aquila, ia tidak pernah berpikir bahwa OCD yang di derita Aquila selama tiga bulan ini akan membuat Aquila menderita. Sejak tiga bulan lalu Aquila memang di vonis menderita Obsessive Compulsive Disorder atau OCD. OCD adalah penyakit yang berkaitan dengan psikis, membuat penderitanya melakukan aktvitas berulang kali dengan rasa was-was. OCD Aquila ini bermula ketika Aquila berjalan, sepatu Aquila menginjak kotoran kucing. Aquila sangat takut jika ada kotoran di sepatunya, dia melihat sepatunya dan merasa jijik, lalu melanjutkan perjalanan tapi ternyata diperjalanan ia teringat kembali sepatunya masih terkena kotoran. Aquila akhirnya menggesekan sepatunya ke tanah agar kotoran itu hilang, berulang-ulang sehingga timbul perasaan was-was sepatunya sudah bersih atau belum. Aquila seharusnya tidak perlu terlalu takut karena perasaan terlalu takut menimbulkan was-was yang terus-menerus, akibatnya saat Aquila makan ,dia selalu takut makanan yang dia makan masuk ke tubuhnya tanpa dia berdoa terlebih dahulu, kemudian dia berdoa dengan keras, dan ketika makan ia tiba-tiba merasa belum berdoa, akhirnya dia mengulanginya lagi, dia berdoa sampai Farhad akhirnya menghentikan Aquila karena sudah berdoa sebanyak 5 kali. Aquila sangat menderita dengan penyakitnya, Aquila juga tidak bisa beribadah dengan tenang, ia selalu menghabiskan banyak waktu untuk mengulang semua aktivitasnya. Penyembuhan OCD sendiri harus dilakukan dengan terapi melalui psikiater.
Farhad bukan tidak ingin mengobati Aquila namun Farhad tidak mempunyai uang untuk membayar psikiater untuk Aquila. Farhad juga masih di bawah umur, dia tidak diperbolehkan bekerja oleh kedua orang tuanya, sehingga yang dapat dilakukan Farhad hanya dengan mencari buku mengenai OCD dan melakukan terapi sendiri kepada Aquila. Farhad pun memutuskan untuk bolos dari sekolah. Ia ingin menemani Aquila di rumah, semenjak berita OCD Aquila menyebar disekolah, Aquila menjadi takut pergi ke sekolah. Syifa, Lia, Arnold, dan Yopi yang masuk sekolah seperti biasanya bingung melihat bangku Farhad yang kosong, karena biasanya Farhad selalu masuk ke sekolah, walaupun sedang sakit. Yopi dan Arnold pun mulai teringat dengan sikap Farhad yang aneh saat di perpustakaan, Syifa dan Lia pun juga teringat dengan sikap Farhad yang tiba-tiba lebih memilih pergi ke suatu acara sendirian karena biasanya Farhad selalu pergi ke acara apapun bersama teman, tidak pernah sendirian. Yopi dan Arnold pun mengajak Syifa dan Lia untuk pergi ke rumah Farhad setelah mata pelajaran terakhir usai.  Ketika mereka sampai di rumah Farhad, langkah kaki mereka terhenti. Mereka mendengar Farhad yang sedang video call tanpa menggunakan earphone dengan ayah dan ibunya di luar negeri. Farhad menceritakan penyakit Aquila  sambil menangis kemudian ayah dan ibunya juga menangis lalu Farhad berkata“ ayah ibu jangan menangis, dan jangan khawatir soal Aquila, aku akan melakukan terapi melalui buku OCD” Ayah dan ibunya meminta maaf karena gaji mereka, tahun ini hanya cukup untuk membiayai kehidupan Farhad, Aquila saja, mereka habis tertimpa musibah di Korea, rumah tempat tinggal mereka di rampok, sehingga emas yang mereka simpan untuk keperluan mendesak Farhad dan Aquila menjadi hilang. Mendengar itu, Farhad berkata kepada ayah dan ibunya, “sabar ya Yah, Bu.” Ayah dan ibu Farhad pun merasa sangat rindu dengan Farhad dan Aquila, namun mereka terpaksa harus kerja di Korea karena kesalahan mereka dalam menandatangani kontrak kerja. Ayah ibu Farhad telah menandatangani kontrak yang berisi kesediaan mereka untuk bekerja di Korea selama dua belas tahun tanpa mengajak anak-anaknya beserta keluarganya.  Ayah  dan ibu Farhad harus menepati isi kontrak kerja tersebut, ibu Farhad juga tidak bisa berbuat apa-apa karena ketika dia membaca isi kontrak kembali ada klausul mengenai pelanggaran yang dilakukan salah satu pihak harus membayar sebesar Rp 100 juta rupiah perbulan, ayah dan ibu Farhad tidak mampu membayar uang sebanyak itu akhirnya mereka memutuskan untuk menitipkan Aquila dan Farhad kepada kakek nenek Farhad, saat itu Farhad dan Aquila masih berusia 10 dan 7 tahun lalu 6 tahun kemudian Farhad dan Aquila memutuskan untuk pindah dari rumah kakek dan neneknya karena dia tidak mau merepotkan kakek dan neneknya. Kakek dan nenek Farhad hanya bisa tersenyum mendengar omongan Farhad yang sudah 16 tahun ini, Farhad menjelaskan dia akan mengontrak rumah untuk  ditempati dia dan Aquila karena dia sudah menabung selama 6 tahun dari hasil uang kiriman ayah ibunya yang dititipkan di rekening neneknya. Farhad pun menangis ketika ayah ibunya menceritakan tentang kesalahan dalam menandatangani kontrak kerja itu dan ia langsung mengakhiri video call ayah ibunya “sudah Yah, Bu jangan diingat lagi, aku sudahi  dulu ya Yah, Bu ,assalamu’alaikum.
Mendengar percakapan itu Syifa, Lia, Yopi dan Arnold ikut menitikan air mata, ternyata Farhad yang mereka kenal punya sifat tidak suka menyendiri dan pergi ke acara apapun selalu bersama teman,  bisa merahasiakan ini dari mereka. Syifa dan Lia pun mempunyai ide lalu mereka mengajak Yopi dan Arnold pergi dari rumah Farhad untuk membicarakan ide mereka. Farhad yang sedang bersama Aquila terus menghibur, menyemangati Aquila sambil menahan tangisnya di depan Aquila. Di tempat lain Syifa, Lia, Arnold dan Yopi mulai membicarakan ide yang dimiliki Syifa dan Lia. Akhirnya mereka semua sepakat. Keesokan harinya Farhad masih tidak pergi ke sekolah, ia masih mencari buku OCD di Perpustakaan Sumatera Barat karena dia ingin melakukan terapi OCD kepada Aquila sesuai dengan ilmu psikologi dan akhirnya Farhad menemukan buku yang ia cari lalu ia bergegas pulang. Ketika Farhad sampai di rumahnya dan masuk ke kamar Aquila ia kaget karena ada Syifa, Lia,Yopi dan Arnold yang sedang menengok Aquila. Syifa dan Lia kemudian berbicara dengan Farhad, “Had, biarin kita menghibur Aquila ya” Farhad hanya bisa menahan harunya. Yopi dan Arnold ikut berbicara dengan Farhad, “Had, ikut kita keluar dulu ya” Yopi pun mulai menjelaskan ide Syifa dan Lia. Farhad pun mengangguk setuju, kemudian Arnold mulai memberi aba- aba kepada Syifa dan Lia untuk mulai mengajak Aquila membaca Al-qur’an supaya hati Aquila tenang. Setelah mereka mengaji, Aquila ditutup matanya dan diajak duduk di ruang keluarga. Syifa dan Lia sibuk berganti kostum, begitu juga Yopi dan Arnold setelah selesai mengganti kostum. Tiba-tiba terdengar ketukan pintu, Syifa dan Lia pun inisiatif utuk membuka pintu “kami aja had yang membuka pintunya.” Ketika pintu dibuka, mereka kaget ada Uda Izan datang dengan membawa kamera. “Uda Izan, kenapa kesini?”  tanya Lia heran. Uda Izan menjelaskan kalau Uda Izan mendengar saat Syifa dan Lia membicarakan ide mereka, ternyata Uda Izan ada di tempat yang sama tetapi duduk di meja lain. Uda Izan ingin membantu mereka menghibur Aquila. Uda Izan pun pergi ke ruang keluarga dan mulai memasang kameranya, Yopi dan Arnold tampak kaget dan tidak bisa berkata apa-apa. Penutup mata Aquila pun dibuka ,Aquila memandang panggung kecil yang telah terdekor rapi, di panggung sudah berdiri Yopi yang berperan menjadi penjahat, lalu penjahat itu mulai mengambil uang dari seorang nenek, nenek itu diperankan oleh Syifa, lalu Lia yang saat itu melihat tindakan penjahat itu langsung menunjukan jurus silatnya. Lia memang sering bolos saat latihan silat namun ia selalu menguasai jurus melawan dengan baik. Penjahat pun menyerah dengan Lia, lalu nenek berterimakasih kepada Lia. Nenek mengajak Lia untuk pulang ke kampung nya di Sumatera Barat, Lia pun yang hidup sendiri mengiyakan karena Lia juga berasal dari Sumatera Barat, tiba tiba terdengar Arnold sedang menyanyikan lagu kampuang nan jauah di mato, Arnold mendapat peran sebagai penyanyi jalanan. Arnold sangat fasih dalam menyanyikan lagu minang ini walaupun dia lahir dan tinggal lama di Jerman, lalu Yopi alias penjahat muncul sambil mengatakan “akhirnya Lia dan nenek hidup bahagia”.
Aquila, dan Farhad pun langsung bertepuk tangan, mereka sangat senang dengan pertunjukan singkat yang di tampilkan oleh Syifa, Lia, Yopi dan Arnold. Uda Izan terlihat puas dengan hasil rekamannya. Farhad dan Aquila mengucapakan terimakasih, air mata tak dapat terbendung. Mereka berempat turun dari panggung. Yopi Arnold mendekati Farhad, mereka berpelukan ,sedangkan di kursi sebelah Aquila dipeluk oleh  Lia dan Syifa, mereka berharap Aquila bisa terhibur dengan pertunjukan singkat tadi, tiba- tiba Uda Izan bergumam, hei kalian jangan lupakan aku, aku memang anak kuliah tapi rasanya jiwaku masih semuda kalian haha Mereka tertawa mendengar Uda Izan. “Sini peluk kata Yopi ,Arnold dan Farhad. Saat Uda Izan sedang memeluk, Uda Izan memiliki ide kemudian ide itu disimpan oleh Uda Izan dan ia berniat untuk memberi kejutan kepada Syifa dan kawan-kawan. Keesokan harinya Aquila mulai berangkat ke sekolah lagi, ia mulai siap menghadapi cemoohan yang ditujukan padanya, pertunjukan singkat teman-teman Farhad sudah menghibur hati Aquila. Kehidupan Farhad pun berjalan seperti biasanya. Yopi dan Arnold  semakin sibuk dengan persiapan  lomba karya ilmiahnya yang semakin hari semakin dekat, mereka setiap hari pergi ke perpustakaan, dan akhirnya mereka berhasil menyelesaikan karya ilmiah mereka,  mereka langsung mengirimkan karya ilmiah mereka dan satu bulan kemudian  mendapat email dari penyelenggara lomba karya ilmiah online. Mereka kemudian diminta untuk mengirimkan video pemaparan karya ilmiah mereka. Yopi dan Arnold pun meminta bantuan Syifa, Lia, dan Farhad untuk menilai video pemaparan mereka. Syifa, Lia dan Farhad tidak menyangka video pemaparan karya ilmiah Yopi dan Arnold sangat bagus. Mendengar itu, Yopi dan Arnold langsung mengirimkan video pemaparan karya ilmiah mereka. Dua minggu kemudian mereka mendapat kabar bahwa mereka berhasil menjadi juara dan memenangkan uang senilai 50 juta rupiah, angka yang sangat banyak. Yopi dan Arnold pun teringat bahwa Aquila harus diobati dan akhirnya mereka memberikan setengah dari uang hadiahnya untuk pengobatan Aquila. Farhad yang terkejut mendengar niat Yopi dan Arnold hanya bisa menangis sambil mengucapkan terima kasih lalu memeluk sahabatnya. Syifa dan Lia yang melihatnya pun ikut terharu. Tiba-tiba Uda Izan menghampiri mereka dan meminta mereka membuka youtube, mereka kaget melihat video pertunjukan mereka telah diupload, akun yang diberi nama “Berlian Sumatera Barat” oleh Uda Izan mempunyai jutaan like dan subcribers. Uda Izan berkata “kalian adalah berlian Sumatera Barat, persahabatan kalian berkilau seperti berlian dan kalian mempunyai bakat tersembunyi seperti berlian yang ada di tumpukan pasir.” Syifa, Lia, Farhad, Yopi dan Arnold pun terkenal sebagai berlian Sumatera Barat.

Pesan Cinta



Pesan Cinta
Murid-murid kelas 3 SMP Harapan sudah memenuhi papan pengumuman, mereka ingin segera mengetahui syarat untuk mengikuti seleksi olimpiade Sosiologi tingkat nasional. Mereka membaca satu persatu syaratnya, sampai akhirnya mereka membaca syarat utama mengikuti seleksi ini mereka harus lulus seleksi sekolah terlebih dahulu. Mereka merasa syarat lulus seleksi sekolah adalah hal yang berat, kemudian ada seorang murid kelas 3N SMP Harapan yang berteriak “aku pasti bisa!” Semua murid kelas 3 yang mendengar suara itu melirik pemilik suara itu, ternyata murid yang berteriak itu adalah Hani.  Hani adalah murid kelas 3N SMP Harapan yang tidak pernah membutuhkan motivasi, ia selalu optimis dan semangat dalam melakukan aktivitasnya.
Besoknya seleksi sekolah pun dibuka dengan syarat peserta yang boleh mengikuti seleksi adalah murid kelas 3 yang mendapat nilai ulangan Sosiologi paling rendah 70. Jam pertama seleksi dimulai dari kelas 3B, semua murid kelas 3B masuk ke ruangan lalu guru Sosiologi mereka mengumumkan hasil ulangan Sosiologinya, ada 12 murid kelas 3B yang berhak mengikuti seleksi sekolah. Dua jam kemudian Bu Vanila guru Sosiologi kelas 3N dan semua murid kelas 3N termasuk Hani masuk ke ruangan, dua menit kemudian Bu Vanila mengumumkan hasil ulangan kelas 3N, namun ketika semua nama telah dibacakan tidak terdengar nama Hani sebagai murid yang mendapat nilai di atas 70 ataupun nilai 70. Semua murid kaget karena biasanya Hani selalu masuk ke daftar murid yang mendapat nilai di atas 70 bahkan Hani pernah mendapat nilai ulangan sosiologi terbesar di antara murid kelas 3. Hani hanya bisa menahan tangisnya lalu berlari keluar ruangan, ia tidak menyangka hasilnya akan seperti itu. Hani tidak pernah mendapat nilai seburuk itu dalam pelajaran Sosiologi. Besoknya seleksi sekolah ditutup karena sekolah telah mendapat murid yang lulus seleksi sekolah, tes sudah diberikan kemarin saat semua kelas telah mengumumkan nilai ulangan Sosiologi masing-masing. Hani yang mengetahui itu, hanya bisa memaki dirinya, bagi Hani bisa mengikuti olimpiade Sosiologi tingkat nasional adalah impiannya ,ia ingin merasakan menjadi peserta olimpiade Sosiologi tingkat nasional. Nilai Sosiologi yang buruk kini selalu terbayang di benak Hani, Hani yang optimis berubah menjadi pesimis. Ia tidak bersemangat lagi dalam menjalani aktivitasnya. Ia masuk ke kelas tanpa ekspresi, hari ini mata pelajaran pertama nya adalah sosiologi. Bu Vanila pun masuk ke kelas dan kemudian mulai menjelaskan materi tentang interaksi sosial. Bu Vanila yang selalu ekspresif mulai menatap Hani dengan pandangan sendu. Hani membalas tatapan Bu Vanila  dengan tatapan nanar, tiba-tiba Bu Vanila tidak bisa menahan tangisnya.
“Anak-anak ibu keluar kelas dulu ya sebentar. ucap Bu Vanila
Semua muridnya mengiyakan kecuali Hani yang tidak menjawab, ia hanya menatap wajah gurunya dengan tatapan nanar. Bu Vanila pun pergi keluar kelas lalu ia menangis, ia sedih melihat Hani seperti itu ,ia masih ingat kalau Hani adalah murid yang pandai, Hani sangat menyukai  sosiologi. Bu Vanila pun mencari ide untuk menghibur Hani, hal ini ia lakukan karena Bu Vanila tidak pernah bisa melihat muridnya sedih. Bu Vanila pun segera menyapu air matanya dengan tisu, kemudian bergegas masuk ke kelas. Setelah dua jam Bu Vanila menjelaskan materi interaksi sosial, bel istirahat berbunyi. Semua murid terlihat semangat karena bel yang ditunggu-tunggu berbunyi, Bu Vanila yang melihat semangat murid-muridnya langsung mengakhiri materi interaksi sosialnya. Hani yang biasanya ikut semangat saat mendengar bel hanya keluar kelas tanpa semangat. Bu Vanila sangat tidak tahan melihatnya. Bu Vanila terus berpikir bagaimana cara menghibur muridnya ini, tiba-tiba di perjalananan menuju ruang guru, Bu Vanila bertemu Pak Dana dan Pak Hasan.
Bu vanila kenapa? seperti ada yang Ibu pikirkan?tanya Pak Dana.
Bu Vanila pun menjawab, iya Pak saya memikirkan Hani, murid kelas Sosiologi saya. Pak Dana pun heran, karena setahunya Hani adalah murid yang pandai di bidang Sosiologi.
Hani dia anak yang pandai kan Bu? tanya Pak Dana.
 “Iya dia murid yang pandai, semua orang tahu kalau dia sangat pandai terutama dalam pelajaran Sosiologi,” jawab Bu Vanila sambil menahan tangisnya.
Pak Dana dan Pak Hasan masih belum tahu apa yang telah terjadi, kemudian Bu Vanila menceritakan apa yang terjadi dengan Hani, Pak Dana dan Pak Hasan langsung ikut menangis, karena mereka teringat Hani saat diajarnya adalah murid yang periang juga dan termasuk murid yang pandai dalam pelajaran Bahasa Inggris, dan pelajaran Olahraga. Dia tidak pernah kena remedial. Saat Pak Dana, Pak Hasan dan Bu Vanila sedang asyik bercerita mengenai Hani terdengar suara bel tanda masuk kelas, Pak Dana pun berkata kepada Bu Vanila dan Pak Hasan,
Kita lanjutkan nanti ya, saya akan mengajar bahasa Inggris dulu dan pas sekali jadwal saya hari ini di kelas Hani.” Pak Hasan dan Bu Vanila menjawab dengan kompak.
 Baik pak, silakan mengajar dahulu dan coba bapak perhatikan apakah Hani juga tidak semangat terhadap mata pelajaran yang bapak ajar?” ucap Bu Vanila.
Pak Dana pun mulai berjalan meninggalkan kedua temannya sambil mengucapkan ”kalau Hani tidak semangat dalam pelajaran saya, saya akan meminta dia keluar kelas untuk cuci muka.”  
Hani dan semua murid kelas 3N masuk ke kelas untuk belajar bahasa Inggris, kemudian Pak Dana masuk ke kelas dan memulai materi speaking hari ini,
How are you today? tanya Pak Dana.
kemudian semua murid menjawab kecuali Hani I am fine thank you Sir?”  
 Hani what's wrong with you ? tanya Pak Dana.
 Hani hanya memalingkan matanya dari tatapan Pak Dana, Pak Dana kesal dengan Hani karena begitu tidak sopan dan Hani tidak bersemangat, akhirnya dia meminta Hani keluar untuk mencuci muka. Hani pun menurut lalu ia pergi dari kelas untuk mencuci muka, setelah satu menit ia pergi dari kelas akhirnya Hani kembali tapi tidak ada perubahan pada ekspresi wajahnya, masih tidak bersemangat. Pak Dana pun bertanya ke semua muridnya kali ini dengan bahasa Indonesia,
 “Murid-muridku kalian tahu kekurangan bapak, bapak punya sifat  mudah kesal?” tapi apa kalian tahu kelebihan bapak?”  tanya Pak Dana.
Semua murid hanya bisa berkata tidak tahu pak, kali ini Hani pun ikut menjawab. Omongan bapak ini punya makna, maknanya adalah setiap orang punya kekurangan, tapi mereka juga punya kelebihan.” Ucap Pak Dana dengan bijak. Hani begitu serius mendengar omongan Pak Dana.
“Contohnya ketika orang punya kekurangan, yaitu tidak bisa bicara depan umum tapi ternyata orang juga punya kelebihan membuat puisi jadi kita harus menunjukan kelebihan kita karena kita tidak hanya punya kekurangan,” ucap Pak Dana
Hani pun mulai mengerti maksud Pak Dana, ia harus menunjukan kelebihannya dan menutupi kekurangannya, tapi ingatan tentang kegagalannya membuat wajahnya tidak bisa tersenyum. Bel pulang pun berbunyi tanda mata pelajaran harus di akhiri, Pak Dana pun pamit dan mengakhiri mata pelajaran hari itu. Pak Dana yang keluar kelas terlebih dulu, tiba tiba kaget karena Bu Vanila dan Pak Hasan membawa banyak sekali sticky notes kepadanya.
“Begini pak saya merasa Hani harus di semangati oleh kita, sticky notes ini adalah pesan cinta kita semua untuk Hani. kata Bu Vanila
Mereka akhirnya memberikan sticky notes itu kepada Hani ketika mereka sedang mengajar Hani. Sticky notes pertama diberikan Pak Dana dan bertuliskan ‘Jangan sia siakan waktumu dengan terus memikirkan masa lalu!’ lalu kemudian ketika pelajaran Olahraga ,Hani mendapat sticky notes lagi dari Pak Hasan yang isinya ‘harus semangat, tidak boleh menyerah!’ Semua kata-kata ini membuat Hani mulai berpikir bahwa selama ini dia telah menyia menyiakan waktu dan dia sudah hampir menyerah. Tidak lama Bu Vanila datang menghampiri Hani dan memberikan sticky notes lagi buat Hani, kali ini kata-kata nya membuat Hani menangis. Kamu gagal meraih impianmu kali ini? bukan berarti kamu tak bisa buat impian baru kan.’ Hani hanya bisa memeluk Bu Vanila sejujurnya Hani terkejut karena Bu Vanila memberikan pesan itu padanya, Hani menfavoritkan Bu Vanila sebagai guru sosiologi kesayangannya, Hani mulai berani mengatakan sebenarnya ia malu kepada Bu Vanila karena dia gagal memenuhi syarat ikut seleksi sekolah untuk mengikuti olimpiade Sosiologi tingkat nasional. Bu Vanila pun berkata kamu tak perlu khawatir karena kegagalan kamu, kamu bisa punya impian baru dan tiga bulan lagi UN, kamu sekarang fokus pada UN supaya bisa dapat nilai UN yang bagus.” Hani pun mengangguk, ia akhirnya kembali optimis. Bu Vanila pun bergegas ke ruang guru, kemudian Bu Vanila menceritakan kejadian hari ini pada Pak Dana, dan Pak Hasan. Pak Hasan tiba-tiba mempunyai ide untuk disampaikan kepada kepala sekolah, yaitu memberlakukan pesan cinta melalui sticky note kepada semua murid SMP Harapan, kemudian Pak Hasan menemui kepala sekolah untuk menyampaikan idenya, kepala sekolah setuju dan mulai detik ini pesan cinta diberlakukan bagi semua guru SMP Harapan kepada muridnya.
Tiga  bulan kemudian Hani dan murid kelas 3 sudah bersiap memulai ujian nasional dengan sistem komputer dan mata pelajaran yang ia kerjakan lebih dahulu adalah sosiologi, mata pelajaran favoritnya. Hani mulai mengisi soal dengan antusias dan dua jam kemudian bel tanda ujian berakhir berbunyi, semua murid harus berhenti menyelesaikan soal yang mereka masih kerjakan. Tiba-tiba keluarlah hasil ujian mereka. Hani sangat terkejut karena mendapat nilai 100 dalam mata pelajaran Sosiologi, air matanya tak bisa ia tahan, ia teringat bahwa kegagalan tidak berarti tidak mempunyai impian baru, matanya terus mengeluarkan air mata karena ia sangat senang dapat meraih impian barunya. Setelah hasil ujian keluar, speaker sekolah pun berbunyi
Kami akan mengumumkan peraih nilai ujian terbesar mata pelajaran sosiologi yaitu Hani dari kelas 3N,kepada Hani silakan ke lapangan untuk mengambil hadiahnya.
 Hani pun berdiri dari kursinya dan menuju lapangan untuk mendapat hadiah dari sekolah berupa uang tunai, piala serta Hani otomatis diterima sebagai siswa SMA Bangsa, SMA Bangsa adalah SMA favorit yang sangat diimpikan Hani, Hani pun menyampaikan pidatonya. “Saya sejujurnya tidak menyangka bisa berdiri disini mendapat hadiah serta nilai yang sempurna dalam pelajaran favorit saya, saya teringat saya pernah jatuh dan ada yang selalu memberi saya semangat dengan pesan cinta buatannya baik di kertas ataupun obrolan di kelas terimakasih untuk Bu Vanila, Pak Hasan dan Pak Dana, terimakasih karena ibu dan bapak telah memberikan motivasi untuk saya. Terima kasih juga untuk semua guru-guru yang selama 7 bulan ini memberikan pesan cinta untuk semua murid-muridnya ini motivasi bagi kami, Hani pun menutup pidatonya dengan ucapan kalian adalah pahlawan kami.”