Berlian
Sumatera Barat
Siang itu langit dipenuhi awan, sekolah SMA Minang tampak sepi, sekolah hanya menjalankan aktivitas ujian olahraga bagi anak kelas 1. Olahraga basket adalah olahraga yang diujikan. Semua anak kelas 1 yang terdiri dari kelas A sampai C mulai bersiap untuk menunjukan kemampuan mereka dalam mengoper bola, dribble bola, dan memasukan bola basket ke dalam ring. Guru olahraga pun mengumumkan secara acak, bahwa siswa yang harus ujian basket terlebih dahulu adalah anak-anak dari kelas C. Kelas C ini terkenal kelas yang terdiri dari anak yang paling menyukai olahraga basket, namun di kelas C ini juga terdapat anak-anak yang tidak suka dengan olahraga basket, mereka adalah Syifa, Lia, Farhad, Yopi, dan Arnold. Mereka selalu kompak karena sudah bersahabat dari mulai sekolah menengah pertama dan memiliki ketidaksukaan yang sama, yaitu tidak suka olahraga basket, tetapi karena ini ujian olahraga basket, suka atau tidak mereka harus menunjukan kemampuannya. ”Syifa” suara pak guru mulai memanggil, Syifa pun memulai gilirannya, lalu dilanjutkan oleh Lia. Setelah Lia selesai menunjukan kemampuannya, tiba- tiba guru olahraga melihat kilat.“Anak-anak ketika bel berbunyi kita sudahi ya ujian olahraga basket ini, untuk kelas yang belum ujian hari ini, ujian akan dilakukan besok”. Anak-anak bingung karena biasanya walaupun bel berbunyi, ujian olahraga akan dilanjutkan sampai semua kelas selesai ujian. Farhad pun bertanya dengan mengacungkan tangannya, “Pak, kenapa ujian dihentikan saat bel berbunyi? bukankah ini masih giliran kelas pertama?”. Guru olahraga pun menjawab, “Iya Farhad memang betul, tapi tadi bapak melihat kilat sepertinya akan turun hujan”.
“Teng Teng”, suara bel berbunyi tanda ujian olahraga
harus diakhiri. Guru olahraga meminta anak-anak didiknya untuk pulang ke rumah
masing-masing. Anak-anak didiknya pun masuk ke kelas untuk mengambil tas mereka
masing-masing. Setelah mengambil tas sebagian anak yang langsung pulang dan ada
pula yang pergi ke kantin terlebih dahulu Farhad, Yopi dan Arnold memilih
pulang duluan sedangkan Syifa dan Lia memilih pergi ke kantin untuk membeli mi
ayam kesukaan mereka. Syifa dan Lia
sampai dikantin, mereka langsung memesan mi ayam hangat dan memilih duduk di
dekat jendela. Tidak sampai 10 menit, ibu kantin datang menghampiri sambil
menyimpan mangkok mi ayam di meja “Nih mi ayamnya” ujar ibu kantin.
“Terimakasih bu” jawab Syifa dan Lia bersamaan. Tiba-tiba saat Syifa dan Lia
sedang asyik menikmati mi ayam yang hangat, mata Syifa melihat ke arah luar
jendela, ia melihat langit berubah menjadi sangat gelap lalu Syifa pun berkata,
“hari ini
sepertinya akan hujan lebat
ya Li.”
Mendengar ucapan Syifa, Lia membenarkan dan berujar “Iya benar Syif,
langitnya gelap sekali, tapi
aku lega Syifa kalau hujan.”
Syifa pun bingung mendengar ucapan Lia, Syifa bertanya lagi sambil menatap wajah
Lia ”Hah ? Lega kenapa?“ Lia
menjawab ”Aku
hari ini punya jadwal latihan silat.” Syifa mengerutkan dahi, dan berkata “bukannya kamu seharusnya sedih
ya karena kamu tidak bisa latihan silat Li.”
“Iya
sedih, aku tidak bisa melihat Uda Izan yang seperti oppa Korea itu” jawab Lia, sambil
menunjukan foto Uda Izan yang imut mirip Do Kyung Soo. Syifa tertawa melihat
foto Uda Izan, “Haha, Li.” Kali ini Lia yang bingung dengan Syifa yang tiba
tiba tertawa. “Syif, sehat? kenapa tiba- tiba tertawa?” tanya Lia. Syifa pun
menatap Lia dengan mulut menahan tawa, tanpa menjelaskan apapun. “Ah kamu ini
Syif, buat aku penasaran aja .“
Lia mulai menyantap mi ayamnya dan tiba-tiba mulai
mengajak bicara Syifa lagi, “Eh ngomong-ngomong Syif, ingin tahu tidak? alasan
sebenarnya aku tidak ingin latihan silat?” ujar Lia. Syifa yang juga asyik
menyantap mi ayamnya menjadi penasaran “kenapa?” tanya Syifa singkat. Lia pun
bercerita, “mamaku
sebelum aku berangkat sekolah berkata, ‘Li hari
ini akan ada tes jurus 1 sampai 17 yang konsekuensinya warna sabuk diturunkan apabila tidak lancar jurusnya’ aku sangat bersyukur apabila hari ini hujan lebat, jadi
aku bisa bolos latihan dan aku
bisa punya kesempatan
melihat media sosial teman
latihan ku, mereka selalu memposting setiap jurus yang diajarkan.” Lia pun
melanjutkan ceritanya, “kamu
tahu Syifa ? dalam
seminggu
aku bisa bolos berapa kali?” Syifa pun menggelengkan kepala. Lia akhirnya
menjawab pertanyaannya sendiri, “empat!
empat kali Syif.” Syifa memasang wajah
tak habis pikir, dan berkata “wah
kamu bolosnya banyak sekali Li, bagaimana
kalau tiba-tiba Uda Izan tahu tentang media sosial teman kamu itu Li?” Lia pun
kaget mendengar ucapan Syifa dan Lia bertanya, “Kenapa memangnya Syif?” Syifa
akhirnya menceritakan sebuah rahasia, “aku saudaranya Uda Izan Li”. Mulut
Lia menganga, Lia tidak percaya bahwa Uda Izan yang imut itu saudara Syifa
sahabat baiknya sendiri.”Pantas Syifa hanya tertawa” ucap Lia dalam hati. Syifa pun kembali bercerita, “Uda Izan orangnya kayak
detektif Li, terutama dalam hal latihan silat,
dia bisa tahu alasan kamu
sering bolos karena disengaja atau tidak.” Lia pun semakin panik mendengar cerita Syifa. “
Syif, Uda Izan kenapa bisa tahu kalau alasan
bolosku disengaja atau tidak?” Syifa terdiam
sejenak lalu tiba-tiba memberitahu dengan nada menakuti,”karena dia langsung
menyelidiki anak
yang bolos latihan silat.”
Lia terkejut mendengarnya sampai terbatuk “uhuk… uhuk
ah kamu bercanda
Syifa, aku semakin
takut dengan Uda
Izan, tetapi aku juga
semakin kagum dengan Uda Izan.”
Syifa pun tertawa karena melihat wajah Lia yang kemerahan. “Li merah wajah
kamu, kenapa kamu kagum dengan Uda Izan?” Lia
menjawab pertanyaan Syifa “karena
wajah dia seperti oppa impian aku ‘Do Kyung
Soo’ yang perannya jadi detektif lalu nanti jatuh
cinta dengan perempuan yang
diselidikinya.” Syifa semakin tertawa kencang “Kebanyakan nonton drama korea
kamu Li haha.” Lia
hanya tersenyum, kemudian Syifa dan Lia
pun kembali menyantap mi ayamnya sampai habis. Syifa yang sudah menghabiskan mi
ayamnya mulai mengajak bicara Lia lagi, “sekarang kamu sudah
tahu, kalau Uda Izan itu pasti tahu alasan kamu
bolos disengaja atau tidak,
jadi nanti kalau latihan yang rajin Li, sayang sekali ilmunya.” Syifa
kembali melanjutkan nasehatnya, “katanya
kamu ingin menjadi
pendekar wanita hebat dari Sumatera Barat, buat membela perempuan-perempuan yang
masih tertindas di seluruh Indonesia.” Lia
menganggukan kepala sambil berkata “iya dong harus! aku
harus membela perempuan yang tertindas.” Syifa
merasa kagum mendengar ucapan Lia sambil berseru “emang ya Li impian kamu luar
biasa!” Syifa
berharap impian Lia dapat terwujud, Syifa pun mendoakan Lia “aku doakan semoga tercapai Li, aamiin.” Lia tersenyum lebar “Wah terimakasih Syifa“ lalu Lia
pun mengajak Syifa pulang dengan berjalan kaki.
Saat perjalanan pulang langit berubah menjadi cerah
kembali, Syifa dan Lia tiba-tiba menghentikan langkah mereka. Mereka melihat
seseorang yang tidak asing. Lia pun memastikan kembali sambil mengusap matanya,
meyakinkan diri bahwa itu benar-benar Uda Izan. ”ahhh Uda Izan, bagaimana ini
Syifa? aku harus bersembunyi dimana? aku pasti ketahuan bolos dengan disengaja
karena dia pasti menyelidiki kenapa aku sering tidak latihan.” Syifa
pun memberikan solusi,
“sudah
kamu jujur saja
Li.” Lia
menolak “apa!
aku malu Syifa dan bagaimana
kalau Uda
Izan membenci aku?” Syifa pun berusaha
memahami ketakutan Lia. “Baiklah kamu
bersembunyi di belakang rumah gadang itu” Syifa menunjuk rumah gadang yang
tampak sepi. Lia pun berlari menuju tempat persembunyiannya. Tiba-tiba saat Lia bersembunyi,
terdengar suara yang tidak asing memanggil namanya “Lia” ternyata itu suara Farhad, Yopi dan Arnold.
“Hei, bukannya kalian sudah pulang duluan?” Lia bertanya dengan suara
pelan. “Kita dari toko buku itu” jawab Farhad, Yopi dan Arnold, lalu Lia
menyimpan jari telunjuknya di depan mulutnya “stttt jangan berisik kalian, aku
sedang bersembunyi.” Mereka bertiga pun iseng dan kembali berteriak “Bersembunyi
dari siapa?” Syifa pun yang tadi masih berdiri diposisi awal mendengar teriakan
dari belakang rumah gadang, tetapi Syifa tidak bisa meninggalkan posisinya, dia
mulai dihampiri oleh Uda Izan. “Syif tadi aku melihat kamu berdua, kenapa
sekarang sendirian?” Syifa menelan air liurnya, dan terlihat gugup “Iya, Uda
aku tadi berdua, tapi tiba-tiba temanku ada urusan lain.” Uda Izan pun melanjutkan
pertanyaannya “kamu tadi bersama Lia?” Syifa menjawab dengan gugup
“tidak Uda.” Uda Izan menatap mata Syifa yang seperti menyembunyikan sesuatu.
Uda Izan kemudian berkata dalam hati “Syifa menyembunyikan sesuatu.” Tiba-tiba
terdengar suara teriakan lagi dari belakang rumah gadang. “Li jangan sembunyi”
Yopi, Farhad dan Arnold berteriak. Uda Izan juga mendengar suara teriakan itu
dan akhirnya ia mengajak Syifa pergi ke belakang rumah gadang. Syifa pun hanya
mampu menganggukan kepala sambil menunjukan wajah panik. Uda Izan begitu
terkejut ternyata Lia ada di belakang rumah gadang itu “sedang apa kamu
disini Lia
?” Lia, Farhad, Yopi, dan Arnold kaget, Lia pun kemudian menjawab “iya Uda Izan, maaf aku
sedang bersembunyi dari Uda Izan, aku
terlalu takut untuk jujur kalau aku bolos dengan sengaja”. Uda
Izan tertawa kecil “aku sudah mengetahui alasan
kamu bolos dan aku
sudah menyelidikinya.” Lia hanya bisa tersipu malu. Uda Izan kemudian kembali
berkata, “aku
mau mengucapkan terimakasih karena
kamu sudah berkata jujur kepadaku, jujur itu adalah suatu sikap yang baik dan
harus tertanam dalam diri”. Syifa
pun meminta maaf kepada Uda Izan karena sudah berbohong kepada Uda Izan. Uda
Izan pun tersenyum lalu berkata, “iya, jangan diulang lagi ya Syif.” Syifa
mengangguk dan berkata “iya Uda Izan aku akan berkata jujur dan tidak berbohong
lagi” ujar Syifa sambil mengacungkan jari kelingkingnya dan Syifa mengajak
janji jari kelingking dengan Uda Izan. Farhad, Yopi, dan Arnold yang daritadi
hanya diam saat melihat adegan Lia yang ketahuan bersembunyi oleh Uda Izan,
hanya bisa berkata “wah Lia hebat sudah jujur” Lia menghela nafas. Syifa pun
mengajak Uda Izan untuk pulang bersama, namun Uda Izan menolak karena Uda izan
akan pergi ke toko buku yang ada di belakang rumah gadang. Uda Izan pun
berpamitan “dah, aku duluan ya”. Syifa dan Lia pun melambaikan tangannya,
diikuti oleh Farhad,Yopi dan Arnold.
“Lega sekali sudah jujur” ucap Lia kepada
teman-temannya. Syifa pun menanggapi Lia, “aku senang ketika Uda Izan menghargai
kejujuran kamu Li.“
Lia dengan wajah berseri berkata, “akhirnya masalahku dengan
Uda Izan
selesai haha.”
Tiba-tiba Farhad menghentikan curhatan Lia “Li, berhenti curhatnya haha,
aku mau tanya ini
sudah
pukul berapa?” Lia pun memeriksa jam yang dipakainya “pukul 13.20
WIB Had” ujar Lia. Farhad
teringat sesuatu dan mulai berpamitan
kepada keempat temannya “eh aku ada
acara nih, aku pamit pulang duluan ya dadah” Farhad pun meninggalkan
teman-temannya dengan terburu-buru. Lia kemudian juga teringat “Ah iya, kita kan harus
pulang Syif.” Yopi
dan Arnold tiba-tiba melihat jam tangan mereka , mereka juga baru
ingat bahwa
mereka harus ke Perpustakaan Sumatera
Barat untuk
mencari bahan untuk lomba karya ilmiah online yang akan mereka ikuti. Yopi dan Arnold memang
anak yang pintar dan selalu juara dalam lomba karya ilmiah online. Lia dan
Syifa pun tertawa lalu mereka berkata dengan kompak “kenapa kita lupanya
bisa bareng
seperti
ini ya? haha.” Yopi dan
Arnold pun ikut tertawa. Lia dan Syifa pun pamit “ kita pulang duluan ya.” Yopi
dan Arnold melambaikan tangannya sambil berkata “dadah kalian, hati-hati ya.”
Syifa dan Lia pun mengucapkan terimakasih, sambil mendoakan keberhasilan Yopi
dan Arnold
“terimakasih, semoga kalian menjadi juara” Arnold dan Yopi
mengamini “aamiin” kemudian
Lia dan Syifa pun meninggalkan Arnold dan Yopi. “Yop, yuk ke perpus sekarang!”
seru Arnold dengan semangat. Yopi pun menganggukan kepala. Setibanya mereka di
perpustakaan, mereka langsung
mencari bahan untuk karya ilmiahnya. Yopi
dan Arnold mulai memilih buku-buku sebagai bahan referensi karya ilmiah
mereka. Tidak berapa lama, Yopi dan Arnold terkejut melihat Farhad ada di perpustakaan juga, Arnold pun langsung dengan
semangat menyapa Farhad “eh
had kamu disini ?” Farhad
pun mengiyakan,
ia berusaha tidak gugup “iya hehe.” Arnold
teringat kalau Farhad seharusnya datang
ke suatu acara, dan Arnold berkata, “bukannya kamu punya acara Had ?” Farhad
pun mulai panik dan menjelaskan dengan gugup “hah iya tapi aku mengurungkan
datang ke acara itu,
aku ingin mencari buku di perpustakaan
saja.” Yopi dan
Arnold pamit untuk pergi ke ruang diskusi “ah yasudah kami ke ruang
diskusi dulu ya,
karena kami ingin mendiskusikan buku yang menjadi referensi ntuk lomba karya ilmiah kami.” Farhad
tersenyum bangga kemudian ia menyemangati serta mendoakan Yopi dan Arnold
“kalian ini memang hebat ya, semangat
kalian! semoga
lancar.” Yopi dan Arnold mengucapkan terimakasih dan mengamini doa Farhad.
Yopi dan Arnold pun segera meninggalkan Farhad,
kemudian mereka masuk ke ruang diskusi. Setelah satu menit mereka duduk, mereka
teringat sikap aneh Farhad. Yopi pun mulai membicarakan sikap aneh Farhad kepada
Arnold “Hei Old kamu tadi melihat sikap Farhad, aneh bukan?” Arnold pun
mengiyakan “iya benar, aneh.” Arnold pun melirik jam di ruang diskusi dan
berkata “Yop yuk mulai diskusinya.” Yopi menganggukan kepala namun pikiran Yopi masih
terganggu dengan sikap Farhad tadi. “Kenapa Farhad ya?
dia bukan tipe yang suka menyendiri, apa ada masalah ?”gumam
Yopi dalam hati. Ketika
Arnold menyampaikan ide untuk karya ilmiah ,Yopi terus termenung, Arnold pun mencoret
tangan Yopi menggunakan pulpen “ih
kenapa kamu Arnold?” Yopi kaget melihat tangannya yang tercoret
pulpen. “Kamu tidak mendengarkan ide aku?” tanya
Arnold dengan kesal. “Iya
aku sedang susah konsentrasi.” Yopi pun meminta maaf
kepada Arnold karena dia kurang konsentrasi Arnold pun memaafkan
Yopi, kemudian mereka berdiskusi selama
dua
jam.
Tiba- tiba bel perpustakaan berbunyi, ini tanda perpustakaan akan tutup.
Yopi dan Arnold harus puas dengan hasil hari ini, mereka pun pulang ke
rumah masing-masing. Farhad yang
masih sibuk mencari buku, mendengar bel perpustakaan berbunyi , kemudian dia bergegas
pulang dengan tangan kosong karena buku OCD yang Farhad ingin cari tidak ia dapatkan.
Sesampainya di rumah Farhad terkejut mendengar adiknya teriak-teriak “Aku
benar-benar benci diriku, kenapa
aku tidak bisa melakukan ini? Ahhhhhhhh” teriak Aquila. “Kamu kenapa?” Farhad panik melihat Aquila
yang ternyata sedang memukul
kepalanya dengan tangan. Aquila
bercerita sambil menangis,
“aku
capek Uda!
kenapa aku tidak bisa melakukan ini dan itu dengan baik? Farhad hanya bisa memeluk adiknya sambil
berkata “kamu
bisa Dik, kamu pasti bisa, tidak usah khawatir dan jangan
sakiti diri sendiri.” Aquila
melepaskan diri dari pelukan Farhad dan berteriak “aku sangat malu?” Farhad pun
menenangkan Aquila dan ia ingin Aquila bercerita mengenai yang terjadi. Aquila
pun menceritakan, “aku sudah capek dengan OCD ku Uda, sudah 2 bulan aku
dikucilkan oleh teman-teman kelasku, mereka hari ini juga mencemooh diriku,
menyebarkan tentang OCD ku sehingga satu sekolah tahu, aku malu Uda, aku merasa
tidak berguna, aku benci OCD ku, benci!”
Farhad menangis mendengar cerita Aquila, ia tidak pernah berpikir bahwa
OCD yang di derita Aquila selama tiga bulan ini akan membuat Aquila menderita. Sejak tiga
bulan lalu Aquila memang di vonis menderita Obsessive
Compulsive Disorder atau OCD. OCD adalah penyakit yang berkaitan dengan
psikis, membuat penderitanya melakukan aktvitas berulang kali dengan rasa
was-was. OCD Aquila ini bermula ketika Aquila berjalan, sepatu Aquila
menginjak kotoran kucing. Aquila
sangat takut jika ada kotoran di sepatunya, dia melihat sepatunya dan merasa
jijik, lalu melanjutkan perjalanan tapi ternyata diperjalanan ia teringat
kembali sepatunya masih terkena kotoran. Aquila akhirnya menggesekan
sepatunya ke
tanah agar kotoran itu hilang, berulang-ulang sehingga timbul perasaan was-was
sepatunya sudah bersih atau belum. Aquila seharusnya tidak perlu terlalu takut karena perasaan terlalu
takut menimbulkan was-was yang terus-menerus, akibatnya saat Aquila makan ,dia selalu
takut makanan yang dia makan masuk ke tubuhnya tanpa dia berdoa terlebih
dahulu, kemudian dia
berdoa dengan keras, dan ketika makan ia tiba-tiba merasa belum berdoa, akhirnya
dia mengulanginya lagi, dia berdoa sampai Farhad akhirnya menghentikan Aquila
karena sudah
berdoa sebanyak 5 kali. Aquila sangat menderita dengan penyakitnya, Aquila juga tidak
bisa beribadah dengan tenang, ia selalu menghabiskan banyak waktu untuk
mengulang semua aktivitasnya. Penyembuhan OCD sendiri harus dilakukan dengan
terapi melalui psikiater.
Farhad bukan tidak ingin mengobati Aquila namun Farhad
tidak mempunyai uang untuk membayar psikiater untuk Aquila. Farhad juga masih
di bawah umur, dia tidak diperbolehkan bekerja oleh kedua orang tuanya,
sehingga yang dapat dilakukan Farhad hanya dengan mencari buku mengenai OCD dan
melakukan terapi sendiri kepada Aquila. Farhad pun memutuskan untuk bolos dari
sekolah. Ia ingin menemani Aquila di rumah, semenjak berita OCD Aquila menyebar
disekolah, Aquila menjadi takut pergi ke sekolah. Syifa, Lia, Arnold, dan Yopi
yang masuk sekolah seperti biasanya bingung melihat bangku Farhad yang kosong,
karena biasanya Farhad selalu masuk ke sekolah, walaupun sedang sakit. Yopi dan
Arnold pun mulai teringat dengan sikap Farhad yang aneh saat di perpustakaan, Syifa
dan Lia pun juga teringat dengan sikap Farhad yang tiba-tiba lebih memilih
pergi ke suatu acara sendirian karena biasanya Farhad selalu pergi ke acara
apapun bersama teman, tidak pernah sendirian. Yopi dan Arnold pun mengajak
Syifa dan Lia untuk pergi ke rumah Farhad setelah mata pelajaran terakhir
usai. Ketika mereka sampai di rumah
Farhad, langkah kaki mereka terhenti. Mereka mendengar Farhad yang sedang video call tanpa menggunakan earphone dengan ayah dan ibunya di luar
negeri. Farhad menceritakan penyakit Aquila
sambil menangis kemudian ayah dan ibunya juga menangis lalu Farhad
berkata“ ayah ibu jangan menangis, dan jangan khawatir soal Aquila, aku akan
melakukan terapi melalui buku OCD” Ayah dan ibunya meminta maaf karena gaji
mereka, tahun ini hanya cukup untuk membiayai kehidupan Farhad, Aquila saja,
mereka habis tertimpa musibah di Korea, rumah tempat tinggal mereka di rampok,
sehingga emas yang mereka simpan untuk keperluan mendesak Farhad dan Aquila
menjadi hilang. Mendengar itu, Farhad berkata kepada ayah dan ibunya, “sabar ya
Yah, Bu.” Ayah dan ibu Farhad pun merasa sangat rindu dengan Farhad dan Aquila,
namun mereka terpaksa harus kerja di Korea karena kesalahan mereka dalam
menandatangani kontrak kerja. Ayah ibu Farhad telah menandatangani kontrak yang
berisi kesediaan mereka untuk bekerja di Korea selama dua belas tahun tanpa
mengajak anak-anaknya beserta keluarganya.
Ayah dan ibu Farhad harus menepati isi kontrak kerja tersebut, ibu
Farhad juga tidak bisa berbuat apa-apa karena ketika dia membaca isi kontrak kembali
ada klausul mengenai pelanggaran yang dilakukan salah satu pihak harus membayar
sebesar Rp 100
juta rupiah
perbulan, ayah dan ibu Farhad tidak mampu membayar uang sebanyak itu akhirnya mereka memutuskan
untuk menitipkan Aquila dan Farhad kepada kakek nenek Farhad, saat itu Farhad dan Aquila masih berusia 10
dan 7
tahun lalu 6 tahun kemudian Farhad dan Aquila memutuskan untuk pindah dari
rumah kakek dan neneknya karena dia tidak mau merepotkan kakek dan neneknya.
Kakek dan nenek Farhad hanya bisa tersenyum mendengar omongan Farhad yang sudah
16 tahun ini, Farhad menjelaskan dia akan mengontrak rumah untuk ditempati dia dan Aquila karena dia sudah
menabung selama 6 tahun dari hasil uang kiriman ayah ibunya yang dititipkan di
rekening neneknya. Farhad pun menangis ketika ayah ibunya menceritakan tentang
kesalahan dalam menandatangani kontrak kerja itu dan ia langsung mengakhiri video call ayah ibunya “sudah Yah, Bu jangan diingat lagi, aku
sudahi dulu ya Yah, Bu ,assalamu’alaikum.”
Mendengar percakapan itu Syifa, Lia, Yopi dan Arnold ikut
menitikan air mata, ternyata Farhad yang mereka kenal punya sifat tidak suka
menyendiri dan pergi ke acara apapun selalu bersama teman, bisa merahasiakan ini dari mereka. Syifa dan
Lia pun mempunyai ide lalu mereka mengajak Yopi dan Arnold pergi dari rumah
Farhad untuk membicarakan ide mereka. Farhad yang sedang bersama Aquila terus
menghibur, menyemangati Aquila sambil
menahan tangisnya di depan Aquila. Di tempat lain Syifa, Lia, Arnold dan Yopi mulai
membicarakan ide yang dimiliki Syifa dan Lia. Akhirnya mereka semua sepakat.
Keesokan harinya Farhad masih tidak pergi ke sekolah, ia masih mencari buku OCD di Perpustakaan
Sumatera Barat karena
dia ingin melakukan terapi OCD kepada Aquila sesuai
dengan ilmu psikologi dan akhirnya Farhad menemukan buku yang ia cari
lalu ia bergegas pulang. Ketika Farhad sampai di rumahnya dan masuk ke kamar
Aquila ia kaget karena ada Syifa, Lia,Yopi dan Arnold yang sedang menengok
Aquila. Syifa dan Lia kemudian berbicara dengan Farhad, “Had, biarin kita
menghibur Aquila ya” Farhad hanya bisa menahan harunya. Yopi dan Arnold ikut
berbicara dengan Farhad, “Had, ikut kita keluar dulu ya” Yopi pun mulai
menjelaskan ide Syifa dan Lia. Farhad pun mengangguk setuju, kemudian Arnold
mulai memberi aba- aba kepada Syifa dan Lia untuk mulai mengajak Aquila membaca
Al-qur’an supaya hati Aquila tenang. Setelah mereka mengaji, Aquila ditutup
matanya dan diajak duduk di ruang keluarga. Syifa dan Lia sibuk berganti kostum,
begitu juga Yopi dan Arnold setelah selesai mengganti kostum. Tiba-tiba
terdengar ketukan pintu, Syifa dan Lia pun inisiatif utuk membuka pintu “kami
aja had yang membuka pintunya.” Ketika pintu dibuka, mereka kaget ada Uda Izan
datang dengan membawa kamera. “Uda Izan, kenapa kesini?” tanya Lia heran. Uda Izan menjelaskan kalau
Uda Izan mendengar saat Syifa dan Lia membicarakan ide mereka, ternyata Uda
Izan ada di tempat yang sama tetapi duduk di meja lain. Uda Izan ingin membantu
mereka menghibur Aquila. Uda Izan pun pergi ke ruang keluarga dan mulai
memasang kameranya, Yopi dan Arnold tampak kaget dan tidak bisa berkata
apa-apa. Penutup mata Aquila pun dibuka ,Aquila memandang panggung kecil yang
telah terdekor rapi, di panggung sudah berdiri Yopi yang berperan menjadi
penjahat, lalu penjahat itu mulai mengambil uang dari seorang nenek, nenek itu
diperankan oleh Syifa, lalu Lia yang saat itu melihat tindakan penjahat itu
langsung menunjukan jurus silatnya. Lia memang sering bolos saat latihan silat
namun ia selalu menguasai jurus melawan dengan baik. Penjahat pun menyerah
dengan Lia, lalu nenek berterimakasih kepada Lia. Nenek mengajak Lia untuk
pulang ke kampung nya di Sumatera Barat, Lia pun yang hidup sendiri mengiyakan
karena Lia
juga berasal dari Sumatera Barat, tiba tiba terdengar Arnold sedang
menyanyikan
lagu kampuang
nan jauah di
mato, Arnold mendapat peran sebagai penyanyi jalanan. Arnold
sangat fasih dalam menyanyikan lagu minang ini walaupun dia lahir dan tinggal
lama di Jerman, lalu Yopi alias penjahat muncul sambil mengatakan “akhirnya Lia
dan nenek hidup bahagia”.
Aquila, dan Farhad pun langsung bertepuk tangan,
mereka sangat senang dengan pertunjukan singkat yang di tampilkan oleh Syifa,
Lia, Yopi dan Arnold. Uda Izan terlihat puas dengan hasil rekamannya. Farhad
dan Aquila mengucapakan
terimakasih, air mata tak dapat terbendung. Mereka berempat turun dari
panggung. Yopi
Arnold mendekati Farhad, mereka
berpelukan ,sedangkan
di kursi
sebelah Aquila dipeluk oleh Lia dan Syifa, mereka berharap Aquila bisa terhibur
dengan pertunjukan singkat tadi, tiba-
tiba Uda Izan bergumam,
“hei
kalian jangan lupakan
aku, aku memang
anak kuliah tapi rasanya jiwaku masih semuda kalian haha” Mereka tertawa
mendengar Uda Izan. “Sini
peluk”
kata Yopi ,Arnold dan Farhad. Saat
Uda Izan sedang memeluk, Uda Izan memiliki ide kemudian ide itu disimpan oleh
Uda Izan dan ia berniat untuk memberi kejutan kepada Syifa dan kawan-kawan.
Keesokan harinya Aquila mulai berangkat ke sekolah lagi, ia mulai siap
menghadapi cemoohan yang ditujukan padanya, pertunjukan singkat teman-teman
Farhad sudah menghibur hati Aquila. Kehidupan Farhad pun berjalan seperti
biasanya. Yopi dan Arnold semakin sibuk
dengan persiapan lomba karya ilmiahnya
yang semakin hari semakin dekat, mereka setiap hari pergi ke perpustakaan, dan
akhirnya mereka
berhasil menyelesaikan karya ilmiah mereka,
mereka langsung mengirimkan karya ilmiah mereka dan satu bulan kemudian mendapat email dari penyelenggara lomba karya ilmiah online. Mereka kemudian diminta untuk
mengirimkan video pemaparan karya ilmiah mereka. Yopi dan Arnold pun meminta
bantuan Syifa, Lia, dan Farhad untuk menilai video pemaparan mereka. Syifa, Lia
dan Farhad tidak menyangka video pemaparan karya ilmiah Yopi dan Arnold sangat
bagus. Mendengar itu, Yopi dan Arnold langsung mengirimkan video pemaparan
karya ilmiah mereka. Dua minggu kemudian mereka mendapat kabar bahwa mereka
berhasil menjadi juara dan memenangkan uang senilai 50 juta rupiah, angka yang
sangat banyak. Yopi dan Arnold pun teringat bahwa Aquila harus diobati dan
akhirnya mereka memberikan setengah dari uang hadiahnya untuk pengobatan
Aquila. Farhad yang terkejut mendengar niat Yopi dan Arnold hanya bisa menangis
sambil mengucapkan terima kasih lalu memeluk sahabatnya. Syifa dan Lia yang
melihatnya pun ikut terharu. Tiba-tiba Uda Izan menghampiri mereka dan meminta mereka membuka youtube, mereka kaget melihat video pertunjukan mereka
telah diupload, akun yang diberi nama
“Berlian Sumatera Barat” oleh Uda Izan mempunyai jutaan like dan subcribers. Uda
Izan berkata “kalian adalah berlian Sumatera Barat, persahabatan kalian
berkilau seperti berlian dan kalian mempunyai bakat tersembunyi seperti berlian
yang ada di tumpukan pasir.” Syifa, Lia, Farhad, Yopi dan Arnold pun terkenal
sebagai berlian Sumatera Barat.

